Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) memprediksi kebutuhan migas Indonesia masih akan terus meningkat hingga 2050. Proyeksi migas tersebut berbanding terbalik dengan prediksi awal yang memperkirakan permintaan akan mulai stagnan pada 2032.
Kini, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa minyak dan gas bumi masih akan menjadi tulang punggung energi nasional dalam jangka panjang.
Komite Investasi Aspermigas, Moshe Rizal mengungkapkan bahwa perubahan proyeksi ini didorong oleh pesatnya pembangunan pusat data dan perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan pasokan energi besar dan andal.
“Prediksi awal permintaan akan mulai stagnan pada 2032, sekarang ternyata berubah, di mana 2050 akan tetap naik untuk oil and gas,” kata Moshe dalam media briefing IEE Series 2026 di Jakarta, Rabu (19/8).
Pertumbuhan Kebutuhan Migas Indonesia Didorong Teknologi Digital
Konsumsi energi yang meningkat akibat perkembangan teknologi digital menjadi faktor utama di balik proyeksi ini. Pusat data dan infrastruktur AI memerlukan pasokan listrik yang stabil dan kontinu, di mana gas bumi dinilai memiliki posisi strategis karena dapat menyediakan energi yang relatif lebih bersih sekaligus andal.
Indonesia sendiri dinilai memiliki potensi gas yang besar. Moshe menyebut sejumlah wilayah seperti Kalimantan Timur dan Papua memiliki sumber daya gas yang dapat menjadi modal memenuhi kebutuhan energi domestik sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Optimalisasi sumber daya migas menjadi penting di tengah target pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca Juga: Ekspansi Migas Berbasis Utang: Tantangan dan Peluang bagi ENRG dan MEDC
Gas Bumi dan Upaya Tekan Emisi
Meski permintaan diprediksi terus meningkat, Aspermigas menilai industri migas tetap harus berkontribusi terhadap upaya penurunan emisi. Menurut Moshe, fokus industri bukan semata-mata menghilangkan penggunaan migas, melainkan menekan intensitas emisi yang dihasilkan dari setiap barel atau unit produksi.
Salah satu upaya yang didorong adalah pengurangan emisi metana. Aspermigas bersama Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi telah menggelar lokakarya pada 2023 untuk memperkenalkan Oil and Gas Methane Partnership (OGMP) 2.0, sebuah inisiatif yang dikembangkan United Nations Environment Programme (UNEP).
Program itu bertujuan membantu perusahaan migas mengidentifikasi dan mengurangi emisi metana dari kegiatan operasional. Moshe menjelaskan metana menjadi salah satu kontributor penting terhadap pemanasan global karena memiliki potensi pemanasan yang jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida.
“Oil and gas berusaha keras dengan program-program seperti itu untuk mengurangi bagaimana metana ini tidak keluar ke udara,” katanya.
Sejumlah perusahaan migas besar di Indonesia telah bergabung dalam inisiatif OGMP 2.0 untuk mendorong pengukuran dan pengurangan emisi secara bertahap.
Kebutuhan migas Indonesia diprediksi terus meningkat hingga 2050, didorong oleh pesatnya pembangunan pusat data dan AI. Meski demikian, industri migas tetap berkomitmen menekan emisi melalui program pengurangan metana.
Dengan potensi gas yang besar, Indonesia memiliki peluang untuk memenuhi kebutuhan energi domestik sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi, asalkan pengelolaan sumber daya dilakukan secara optimal dan berkelanjutan.
Demikian informasi seputar perkembangan kebutuhan migas Indonesia. Untuk berita ekonomi, bisnis dan investasi terkini lainnya hanya di Subbali.Com.
