Budaya Bali dan Agama Hindu tidak lepas dari bunga, kebutuhan akan bunga di Pulau Bali memang cukup besar. Bunga jenis Gemitir atau juga sering disebut Marigold ini perputaran bisnisnya mencapai 200 milyar dalam setahun.

Namun saat ini produksi gemitir menurun, karena para petani yang membudidayakan bunga tersebut di kawasan sekitar Gunung Agung, di antaranya Desa Besakih terpapar abu vulkanik Gunung Agung. Tetapi kebutuhan akan bunga gemitir tersebut masih bisa teratasi. Erupsi Gunung Agung terlihat dampaknya pada bunga tersebut. Saat ini harga bunga gemitir mencapai hagra 40 ribu per kilo, sebelum terjadi erupsi berada di harga 20 ribu per kilo.

Seperti diketahui, bunga Gemitir adalah salah satu bunga yang menjadi pilihan utama masyarakat Bali untuk membuat persembahan atau sesajen. Bunga ini juga banyak digunakan oleh pelaku pariwisata di Pulau Dewata baik berupa bunga potong maupun pot sebagai penghias ruangan dan taman. Permintaan bunga yang memiliki nama ilmiah Tagetes erecta ini di Bali sangat tinggi dan akan meningkat bersamaan dengan pelaksanaan upacara hari besar keagamaan.

Kebutuhan gemitir di Bali, antara 30-40 ton per hari. Kebutuhan tersebut, baik untuk kepentingan upacara adat dan keagamaan, kepentingan pariwisata, yakni pasokan ke hotel, restoran dan sub sektor wisata lainnya. Selain faktor erupsi Gunung Agung, suhu dingin yang relatif ‘ekstrim’ belakangan juga mempengaruhi produksi bunga. Namun demikian, kebutuhan gemitir di Bali, masih mampu terpenuhi. Teknik budidaya bunga Gemitir menggunakan benih atau biji ini diharapkan dapat lebih meningkatkan potensi pendapatan petani.

Pada tahun 2017 nilai industri bunga Gemitir  per tahun di Bali mencapai Rp 100-200 miliar. Kebutuhan bunga marigold di Bali mencapai 8 ton per hari. Sementara kebutuhan bibitnya mencapai 100 kilogram per bulan.

Ketua Asosiasi Pengusaha Hortikultura (Aspehorti) Bali I Wayan Sugiarta, membenarkan menurunnya produksi produk hortikultura, termasuk gemitir  karena terimbas erupsi dan cuaca dingin. “Penurunan produksi sekitar 25 persen,” ujar Sugiarta. Contohnya jeruk. Karena terpapar abu, produksi jeruk terganggu. Demikian beberapa produk lainnya seperti sayuran, terpaksa dilakukan panen dini. “Kekurangan kita datangkan dari luar, dari Jawa,”  jelas Sugiarta.  Karena memang, selama ini untuk memasok kebutuhan produk hortikultura ,  Bali mendatangkan dari luar daerah, selain produk lokal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here