Pekan Kesenian Bali (PKB) ke-40 2018 diramaikan oleh Kesenian Bintang Sekaa Wahana Gurnita, Kota Denpasar. Pementasan dramatari berjudul ‘Tejaning Stri’ yang bermakna Api amarah tidak selamanya buruk. Tetapi seringkali, api kemarahan justru menjadikan manusia sadar. Pesan tentang api ini, untuk memaknai tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-40, Teja Dharmaning Kahuripan di Wantilan Taman Budaya Art Center, Denpasar.

Diiringi tabuh samara pagulingan, dramatari Tejaning Stri Kisah Prabhu Jaya Pangus. Kegaduhan Prabhu Jaya Pangus akibat terkena kutukan Bhatari Danu yang seakan-akan meredupkan kewibawaannya bagaikan telaga tanpa air. Itulah sebabnya Sang Prabhu Jaya Pangus mengadakan pertemuan di Balairung dengan para punggawa, tanda mantri, purahita untuk bisa menyelesaikan permasalahan pada diri sang prabhu. Hasil pembicaraan tersebut diutuslah Patih Dharma Wisesa untuk membunuh Dewi Danu, agar terbalaskan sakit hati Sang Prabhu Jaya Pangus.

PREMBON – Seniman duta Kota Denpasar menampilkan seni prembon pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XL di Taman Budaya Bali, Rabu (4/7) kemarin. (foto/eka adhiyasa)

Dewi Danu tiada yang bisa menghalangi. Beliau menyebabkan wabah epidemi ke wilayah kekuasaan Prabhu Jaya Pangus yaitu Panorajan. Menjadikan masyarakat sekitar bagai di lalap api Durga Gni. Akibatnya Patih Dharma Wisesa dengan sumpah abdi dalemnya ingin membunuh Dewi Danu, malah menerima ajalnya. Saat itupun Bhatari Danu bersabda “Wahai rakyat Panorajan, jangan engkau membuat amarah seorang wanita. Jika engkau sungguh-sungguh berbhakti kepada rajamu, buatlah pralingga beliau sehingga engkau setiap hari selalu bisa memujanya”.

I Nyoman Suarsa menuturkan makna dari cerita tersebut yaitu bahwa api tidak selamanya buruk. Amarah pun begitu. Tidak selamanya amarah itu buruk, melainkan bisa menjadi media penyadaran.

Gusti Bagus Supartama, I Nyoman Geguh, Ibu Rusni, Made Kariasa, Gede Sukaraka, I Wayan Darmida, IPutu Sujana dan I Gede Anom Ranuara. Merekalah para penari yang terkenal di Denpasar sehingga memainkan Drama tari menjadi sangat indah untuk di nikmati. Dengan diringkan tabuh semara pagulingan yang dibawakan 30 orang dari remaja hingga dewasa.

Menurut Nyoman Suarsa pementasan drama tari kurang cocok di wantilan. Selama pementasan memang dari segi suara kurang jelas didengar oleh penonton. Suara yang terdengar menggema, suarsa mengatakan mungkin lebih baik lagi pementasan PKB di kalangan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here